u3-Perundungan-3
Perundungan Digital di Era TikTok: Hal Sepele atau Berbahaya?


Perkembangan teknologi informasi dalam dua dekade terakhir telah mengubah cara orang berkomunikasi dan berinteraksi. Media sosial kini menjadi tempat utama bagi generasi muda untuk berekspresi, berbagi kreativitas, dan membangun jaringan sosial. TikTok, sebagai salah satu platform media sosial yang berfokus pada konten video pendek, telah meraih popularitas luar biasa, terutama di kalangan remaja. Kehadiran TikTok membuka banyak peluang positif, tetapi juga menyebabkan tantangan serius berupa perundungan digital. Fenomena ini bukan hanya sekadar komentar negatif, tetapi telah menjadi masalah sosial yang berdampak luas pada kesehatan mental dan kualitas ruang digital secara keseluruhan.
Perundungan digital adalah bentuk kekerasan atau pelecehan yang terjadi melalui platform digital. Ini mencakup penghinaan, ejekan, penghinaan fisik, fitnah, dan penyebaran konten yang merendahkan martabat seseorang. Di TikTok, perundungan biasanya muncul melalui komentar di unggahan, pesan pribadi, atau penyebaran ulang video yang bertujuan mengejek atau mempermalukan pengguna lain. Bentuknya bisa berupa kata-kata langsung atau tersirat melalui simbol, emoji, dan meme yang menjatuhkan pihak tertentu. Studi kualitatif menemukan adanya penghinaan fisik dan julukan yang tidak pantas di kolom komentar TikTok, terutama terhadap akun yang memiliki keterbatasan fisik, menunjukkan bahwa cyberbullying dapat menyerang aspek identitas seseorang secara langsung.
Statistik global menunjukkan prevalensi cyberbullying yang tinggi di media sosial. Menurut sebuah survei global 2025, sekitar 64% pengguna TikTok mengalami bentuk perundungan digital, menjadikannya salah satu platform dengan angka kejadian cyberbullying yang signifikan, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan platform lain seperti YouTube yang mencapai 79%.
Data ini diperkuat oleh penelitian akademik yang mengumpulkan ribuan komentar TikTok untuk dianalisis sebagai sampel cyberbullying. Hasilnya menunjukkan bahwa ejekan terhadap penampilan dan hinaan muncul cukup sering dalam unggahan tertentu.
Beberapa kasus yang perlu menjadi perhatian serius bagi kita sebagai remaja:
1. Kasus Penghinaan Akun @raaciil
Dalam penelitian yang menganalisis komentar di akun TikTok @raaciil, ditemukan bahwa sebagian besar komentar mengandung penghinaan fisik dan julukan yang tidak pantas untuk pemilik akun. Ejekan tersebut tidak hanya menyasar konten video, tetapi langsung merendahkan harga diri berdasarkan penampilan fisik.
Sumber creator :
https://www.tiktok.com/@raaciil?_r=1&_t=ZS-94FrVxpqnvI
2. Kasus “The Tandi’s Family”
Kasus lain menunjukkan bahwa sebuah keluarga yang mengelola akun TikTok mengalami cyberbullying secara terus-menerus dari komentar netizen. Jenis intimidasi yang terjadi mencakup pelecehan verbal, flaming (memancing emosi), fitnah, dan impersonasi yang berarti mengaku menjadi orang lain untuk mencemarkan nama baik.
Sumber Creator:
https://www.tiktok.com/@tandisuwanto?_r=1&_t=ZS-94FrHb5Bwns
3. Dampak Tragis Cyberbullying yang dialami Rajeswary Appahu
Beberapa kasus ekstrem juga menarik perhatian internasional, seperti kematian seorang figur publik akibat tekanan dari perundungan daring. Rajeswary Appahu, seorang sosial media personality asal Malaysia yang dikenal sebagai Esha, dilaporkan meninggal setelah mengalami tekanan dan pelecehan di media sosial, termasuk melalui TikTok. Kasus ini meningkatkan kesadaran akan dampak serius cyberbullying terhadap kesehatan mental korban.
Penyebab perundungan digital di TikTok sangat kompleks. Beberapa faktor yang memicu perundungan ini antara lain:
a. Anonimitas dan jarak psikologis: Pengguna merasa terlindungi oleh privasi digital, sehingga lebih berani melontarkan komentar kasar tanpa mempertimbangkan dampaknya pada korban.
b. Algoritma viral: Konten yang kontroversial cenderung mendapatkan perhatian lebih tinggi, sehingga repost dan komentar pedas dapat memenuhi ruang dengan cepat.
c. Kurangnya literasi digital: Rendahnya pemahaman etika komunikasi digital membuat pengguna belum peka terhadap dampak emosional terhadap orang lain.
Intensitas penggunaan yang tinggi: Penelitian menunjukkan bahwa semakin sering remaja menggunakan TikTok, semakin besar kemungkinan mereka terlibat baik sebagai korban maupun pelaku cyberbullying.
Dampak dari cyberbullying sangat nyata dan serius. Korban sering mengalami penurunan harga diri, kecemasan, stres, depresi, dan keinginan untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Tekanan psikologis semacam ini dapat memengaruhi prestasi akademik, hubungan sosial, dan kesehatan mental jangka panjang.


Tidak hanya berdampak pada individu, budaya digital yang penuh kebencian juga memengaruhi kualitas interaksi sosial secara keseluruhan. Ketika komentar negatif dianggap sebagai hal biasa, ruang digital akan semakin toksik, mendorong sikap apatis dan agresif antar pengguna.
Untuk mengatasi cyberbullying, berbagai pihak perlu berperan:
a. Peningkatan literasi digital: Edukasi tentang etika berinteraksi di ruang digital harus diberikan sejak dini di keluarga dan sekolah.
b. Pendekatan hukum: Kasus cyberbullying dapat ditindak berdasarkan peraturan yang mengatur tentang penghinaan dan pencemaran nama baik di ranah digital, seperti yang tercantum dalam peraturan di beberapa yurisdiksi.
c. Fitur perlindungan platform: TikTok dan media sosial lain perlu lebih proaktif menyediakan alat pelaporan bullying, moderasi otomatis, dan dukungan bagi korban.
Perundungan digital di TikTok adalah fenomena kompleks yang tidak bisa dianggap sepele. Ia mencerminkan dinamika sosial dalam ruang digital yang dapat berdampak serius bagi kesehatan mental dan kualitas hubungan manusia. Menghadapi tantangan ini memerlukan kolaborasi antara pengguna, pendidik, pembuat kebijakan, dan platform digital itu sendiri. Hanya melalui pendidikan digital yang baik, kesadaran etika, dan perlindungan yang tepat, kita dapat menciptakan ruang digital yang aman, inklusif, dan mendukung untuk generasi sekarang dan mendatang.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait